Golkar Riau – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, M. Sarmuji, mengajak generasi muda untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila dengan pendekatan yang sesuai perkembangan era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Wawasan Kebangsaan bertajuk "Pancasila Bukan Dibumikan, Tapi Ditumbuhkan" yang digelar di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jakarta.
Menurut Sarmuji, Pancasila bukanlah nilai yang datang dari luar sehingga harus "dibumikan", melainkan lahir dari akar budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia sendiri. Karena itu, ia menilai yang lebih penting adalah menumbuhkan serta merawat nilai-nilai tersebut agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan pandangan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang menyatakan bahwa Pancasila bukan ciptaan pribadi, melainkan hasil menggali nilai-nilai luhur yang telah hidup di bumi Nusantara.
"Merawat Pancasila berarti menjaga sumber nilai yang melahirkannya, yakni budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi," ujar Sarmuji.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar itu mencontohkan berbagai kearifan lokal sebagai cerminan nilai Pancasila, di antaranya ajaran Serat Wulangreh dari Jawa, Siri' Na Pacce dari Bugis-Makassar, Tri Hita Karana dari Bali, hingga Dalihan Na Tolu dari masyarakat Batak.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu terus dikenalkan kepada generasi muda melalui cara yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Sarmuji menilai tantangan saat ini bukan terletak pada kemajuan teknologi, melainkan bagaimana nilai-nilai kebangsaan dapat dikemas menjadi konten yang menarik di berbagai platform digital sehingga mampu bersaing dengan arus informasi global.
Karena itu, ia mendorong hadirnya strategi kebudayaan baru yang melibatkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), pemerintah, pelaku industri kreatif, pengembang teknologi, hingga para kreator konten untuk bersama-sama menghadirkan narasi kebangsaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, negara sebaiknya berperan sebagai fasilitator yang mendukung lahirnya ekosistem kreatif agar nilai-nilai Pancasila dapat tumbuh secara alami melalui film, musik, cerita digital, maupun inovasi berbasis teknologi.
Sarmuji menegaskan, revitalisasi Pancasila tidak cukup hanya melalui hafalan lima sila, tetapi juga dengan menjaga sumber nilai budaya sekaligus memperbarui cara penyampaiannya agar tetap relevan bagi generasi masa kini dan masa depan.