Golkar Riau - Disrupsi teknologi kini tidak lagi berhenti di ruang publik; ia telah menembus hingga ke ruang paling privat dalam keluarga. Menyikapi realitas ini, Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Golkar, Dr. Karmila Sari, S.Kom., MM, menginisiasi diskusi strategis melalui podcast bertajuk “Pendidikan dan Pola Asuh Anak di Era Digital.”
Dialog yang dipandu moderator Ns. Harjana Nanang Suryadi, S.Kep., SKM., MKM tersebut menghadirkan panel lintas sektor mulai dari pembuat kebijakan, praktisi kesehatan, hingga pemangku kepentingan daerah guna merumuskan formula adaptif dalam mendidik Generasi Z dan Alpha di tengah kepungan gawai dan arus informasi tanpa batas.
Dalam pemaparannya, Dr. Karmila Sari mengingatkan bahwa teknologi adalah pisau bermata dua: membuka peluang besar sekaligus menghadirkan risiko serius bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, ia menegaskan bahwa orang tua tidak boleh lagi berada dalam posisi “gagap teknologi”.
“Orang tua harus menjadi filter pertama. Literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban agar pendampingan terhadap anak berlangsung edukatif, sehat, dan terarah,” tegas Srikandi Golkar dari Dapil Riau I tersebut.
Tak berhenti pada isu pola asuh, Karmila juga menyoroti aspek akses pendidikan. Ia mendorong masyarakat memaksimalkan berbagai program bantuan pemerintah, khususnya Program Indonesia Pintar (PIP).
“Kami terus memperjuangkan penambahan kuota PIP melalui jalur aspirasi di Kementerian Pendidikan agar semakin banyak anak di Riau yang terjamin keberlanjutan pendidikannya,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Kepala DP2KBP3A Rokan Hilir, Cici Sulastri, S.KM., M.Si, menekankan bahwa komunikasi dua arah merupakan fondasi utama ketahanan keluarga. Menurutnya, anak yang memiliki ruang dialog sehat di rumah akan jauh lebih kecil kemungkinannya mencari pelarian negatif di dunia maya.
Dari perspektif nilai lokal, Kabid Kebudayaan Disdikbud Rohil, Syamsul Bahari, S.Pd., M.Pd, mengingatkan pentingnya penguatan kurikulum berbasis kearifan lokal.
“Di tengah gempuran budaya global, nilai nilai budaya Riau harus tetap menjadi jangkar identitas anak-anak kita,” ujarnya.
Suasana diskusi kian menguat saat dr. Syahrul Ramadhan, dokter muda berprestasi, membagikan kisah inspiratifnya. Berangkat dari keluarga sederhana dengan orang tua buruh, ia membuktikan keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menembus bangku Universitas Indonesia (UI).
“Di era digital, informasi beasiswa terbuka lebar. Kuncinya kemauan keras dan doa orang tua. Teknologi harus dipakai untuk mencari peluang, bukan sekadar hiburan,” pesannya.
Diskusi ini diharapkan menjadi panduan praktis sekaligus alarm bagi para orang tua di Riau agar mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan penguatan karakter anak sejak dini sebab masa depan generasi tidak boleh diserahkan begitu saja pada algoritma.
Sumber : Media Pesisir News