Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Golkar Yulisman Apresiasi Langkah Bahlil Utamakan Kepentingan Nasional dalam Ekspor Listrik Hijau
Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Golkar Yulisman Apresiasi Langkah Bahlil Utamakan Kepentingan Nasional dalam Ekspor Listrik Hijau

Golkar Riau - Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Yulisman, memberikan apresiasi kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, beserta jajaran Kementerian ESDM yang dinilai mengedepankan kepentingan nasional dalam proses negosiasi kerja sama ekspor listrik hijau antara Indonesia dan Singapura.

Menurut Yulisman, sikap kehati-hatian pemerintah dalam menyusun skema kerja sama, termasuk dalam pembahasan harga listrik dan berbagai aspek teknis lainnya, merupakan langkah strategis agar Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang optimal dari kerja sama tersebut.

"Saya mengapresiasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beserta seluruh jajaran yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam proses negosiasi. Kerja sama ini harus memberikan manfaat yang seimbang bagi kedua negara, namun yang paling penting adalah mampu menghadirkan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Indonesia," ujar Yulisman, Rabu (8/7/2026).

Legislator asal Daerah Pemilihan Riau II itu menilai, kerja sama ekspor listrik hijau menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan energi bersih di kawasan ASEAN. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kerja sama tersebut tidak hanya diukur dari besarnya volume ekspor listrik.

Menurutnya, proyek tersebut harus mampu mendorong masuknya investasi baru, memperkuat industri hijau nasional, menghadirkan transfer teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat rantai pasok dalam negeri, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

"Indonesia jangan hanya menjadi pemasok energi bersih. Kerja sama ini harus menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya industri manufaktur energi hijau, pengembangan kawasan industri berkelanjutan, hilirisasi, serta peningkatan kualitas SDM nasional sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat," tegasnya.

Yulisman mengatakan, hasil Leaders' Retreat Indonesia–Singapura pada 6 Juli 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan kedua negara, khususnya di sektor energi bersih.

Melalui penandatanganan nota kesepahaman proyek interkoneksi listrik lintas batas, Indonesia dan Singapura menargetkan pengembangan ekspor listrik rendah karbon hingga 3,4 gigawatt (GW) pada tahun 2035. Menurutnya, target tersebut harus dibarengi dengan kebijakan yang mampu memperkuat industri nasional.

Ia juga mendukung langkah pemerintah yang mengintegrasikan kerja sama ekspor listrik hijau dengan pengembangan kawasan industri berkelanjutan serta teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat ekosistem transisi energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia sebagai tujuan investasi sektor energi bersih.

"Integrasi antara ekspor listrik hijau, pengembangan kawasan industri hijau, dan teknologi CCS merupakan langkah yang tepat. Ini akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjadikan Indonesia lebih kompetitif dalam menarik investasi global di sektor energi bersih," katanya.

Yulisman optimistis proses negosiasi yang dipimpin Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akan menghasilkan skema kerja sama yang saling menguntungkan tanpa mengabaikan kepentingan nasional.

"Saya optimistis, dengan negosiasi yang dilakukan secara cermat oleh Menteri ESDM beserta jajaran, Indonesia akan memperoleh skema kerja sama yang saling menguntungkan. Ekspor listrik hijau harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mempercepat hilirisasi industri hijau, menarik investasi berkualitas, serta menjadikan Indonesia sebagai pemain utama energi bersih di kawasan ASEAN," pungkasnya.