Ketua Komisi V DPRD Riau Ajak Pelajar Baru SMKN Pertanian Terpadu Cegah Perundungan Sejak Hari Pertama Sekolah
Ketua Komisi V DPRD Riau Ajak Pelajar Baru SMKN Pertanian Terpadu Cegah Perundungan Sejak Hari Pertama Sekolah

Golkar Riau - Ketua Komisi V DPRD Provinsi Riau, H. Indra Gunawan EET, Ph.D., mengajak seluruh peserta didik baru SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru untuk bersama-sama membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan (bullying). Ajakan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Penguatan Karakter dan Aksi Nyata Anti-Perundungan (Anti-Bullying) yang digelar di SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru, Selasa (8/7/2026).

Kegiatan yang diikuti siswa-siswi baru Tahun Ajaran 2026–2027 itu merupakan bagian dari penguatan pendidikan karakter sejak hari pertama memasuki lingkungan sekolah. Melalui kegiatan tersebut, para peserta didik diberikan pemahaman mengenai pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, saling menghormati, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru, Elvita Herasanty, Dosen Psikologi Universitas Abdurrab, Itto Nesyia Nasution, Ketua Komite SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru, Marzaman, jajaran guru, serta seluruh peserta didik baru.

Dalam paparannya, H. Indra Gunawan EET, Ph.D. mengatakan bahwa masa awal memasuki sekolah merupakan fase penting dalam membentuk karakter, etika, dan pola pergaulan para pelajar. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membangun sikap saling menghargai dan kepedulian terhadap sesama.

"Adik-adik adalah generasi yang akan menentukan masa depan Riau. Karena itu, sejak hari pertama di sekolah, tanamkan nilai saling menghargai, saling membantu, dan berani berkata tidak terhadap segala bentuk perundungan. Sekolah harus menjadi tempat yang membuat setiap siswa merasa aman, nyaman, dan dihargai," ujar H. Indra Gunawan EET, Ph.D.

Ia menegaskan bahwa tindakan perundungan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa ataupun sekadar candaan. Menurutnya, bullying dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi korban dan menghambat proses tumbuh kembang peserta didik.

"Bullying bukan sekadar bercanda. Satu ucapan yang merendahkan, satu ejekan, atau satu unggahan di media sosial bisa meninggalkan luka yang panjang bagi seseorang. Dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, prestasi belajar, bahkan masa depan seorang anak. Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menghentikannya," tegasnya.

Politisi Partai Golkar tersebut juga mengingatkan bahwa perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui kata-kata, pengucilan, intimidasi, hingga penyebaran konten yang merendahkan melalui media sosial. Ia mengajak para pelajar agar lebih bijak dalam menggunakan teknologi dan media digital.

"Gunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal yang positif, bukan untuk menghina atau mempermalukan teman. Jejak digital akan selalu ada, sehingga setiap unggahan harus dipertanggungjawabkan. Jadilah generasi yang cerdas, santun, dan beretika, baik di dunia nyata maupun di ruang digital," pesannya.

Dalam kesempatan itu, H. Indra Gunawan EET, Ph.D. juga mengajak seluruh peserta didik menjadi upstander, yakni pribadi yang berani mengambil sikap ketika melihat tindakan perundungan.

"Jangan menjadi pelaku, jangan pula menjadi penonton yang diam. Jadilah upstander, yaitu orang yang berani membela teman yang menjadi korban, memberikan dukungan, dan melaporkan kepada guru apabila melihat tindakan bullying. Keberanian untuk menolong sesama adalah bagian dari karakter seorang pemimpin," katanya.

Menurut Ketua Komisi V DPRD Provinsi Riau itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberhasilan membentuk karakter peserta didik yang berakhlak, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.

"Anak-anak yang berprestasi adalah mereka yang memiliki akhlak, empati, disiplin, dan mampu menghargai perbedaan. Saya berharap SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru terus menjadi sekolah yang ramah anak, bebas dari perundungan, dan mampu melahirkan generasi agribisnis yang unggul, berintegritas, serta siap membangun Provinsi Riau di masa depan," ungkapnya.

Sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak, kegiatan ditutup dengan penandatanganan Deklarasi Bersama Anti-Perundungan oleh H. Indra Gunawan EET, Ph.D. bersama Kepala SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru, jajaran guru, komite sekolah, dan perwakilan peserta didik.

Deklarasi tersebut memuat komitmen untuk menolak segala bentuk perundungan, menjunjung tinggi nilai toleransi, menjadi pembela aktif bagi korban bullying, mematuhi ketentuan hukum yang berlaku, serta mewujudkan SMKN Pertanian Terpadu Pekanbaru sebagai sekolah yang aman, inklusif, beradab, dan mampu mencetak generasi agribisnis yang unggul.

Melalui kegiatan ini diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa pencegahan perundungan merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah. Dengan kolaborasi antara peserta didik, guru, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan, budaya saling menghormati dan peduli dapat terus diperkuat demi terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat dan berkualitas.